Ahmadi, ‘Elang’ dari Samarkilang

No comment 9 views

AHMADI SE lahir di Samarkilang, sebuah kampung kecil di Bener Meriah. Tersuruk di balik gunung dan lembah. Sampai pekan lalu, minta ampun sulitnya mencapai kampung itu. Lalu Ahmadi memperlihatkan rekaman video yang berisi buruknya jalan menuju Samarkilang itu kepada Serambi. Berlumpur dan berkubang. Ia merekam semua itu dalam telepon selulernya.

“Video ini saya rekam seminggu lalu ketika saya pulang ke Samarkilang menghadiri sebuah hajatan,” katanya saat berbincang dengan Serambi di warung bakso Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (6/4).

Sejak sepekan terakhir Ahmadi berada di Jakarta, bertemu dengan banyak tokoh dan pimpinan partai. Termasuk menghadiri pembacaan putusan gugatan sengketa Pilkada Aceh di Mahkamah Konstitusi (MK).

Ahmadi sudah menyelesaikan misinya di Jakarta dan bersiap kembali ke Tanah Gayo yang ia cintai. Putra sulungnya segera masuk pesantren di Banda Aceh dan ia ingin mendampingi sang anak.

Ahmadi adalah bupati terpilih Bener Meriah pada Pilkada 2017. Di Kampung Samarkilang itulah ia lahir pada 1981. Ia bupati termuda pada Pilkada Aceh 2017 dan salah satu termuda pada pilkada serentak 2017 lainnya di Indonesia.

Kini, putra Samarkilang itu telah menjadi “burung elang” yang siap mengepakkan sayapnya di Bener Meriah, kabupaten yang baru lahir dengan prasarana dan sarana terbatas. Ahmadi memang sosok yang tak kenal lelah dan pantang menyerah. Keinginannya belajar tak pernah surut. Itu dia buktikan ketika masih menjabat Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Meriah periode 2003-2008. Ahmadi mengecap pendidikan di Universitas Gajah Putih Takengon dan menyelesaikan pendidikannya saat masih menjabat Ketua KIP Bener Meriah. “Saya adalah bupati yang menjalani pendidikan di perguruan tinggi lokal. Tapi kualitasnya internasional,” ujar Ahmadi setengah bercanda sambil tertawa.

Dialah satu-satunya bupati lulusan Universitas Gajah Putih. Dua bupati Bener Meriah sebelumnya, Ir Tagore Abubakar lulusan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan Ir Ruslan Abdul Gani, lulusan Fakultas Teknik Unsyiah Banda Aceh. Bener Meriah resmi sebagai kabupaten 18 Desember 2003. Kelak setelah dilantik, Ahmadi adalah bupati definitif ketiga di kabupaten itu.

Diam-diam dalam dirinya bersemai sebuah tekad untuk mengubah keadaan buruk itu berbuah kebaikan. Tekad itu terus menggema dalam dirinya. Itulah alasan utama, dirinya mendaftarkan diri menjadi calon bupati. Ia bersandar pada tuntutan agama. Ada tiga cara bagi seseorang yang ingin mengubah keadaan dari yang buruk menjadi kebaikan (amar makruf nahi munkar), yakni dengan kekuasaan, lisan, dan niat. “Saya bertekad melalui kekuasaan, pimpinan daerah,” katanya.

Tapi, Ahmadi tidak ingin salah arah. Ia lalu mendatangi alim ulama dan pemimpin pesantren di seluruh Bener Meriah. Minta masukan dan pencerahan. Di Bener Meriah terdapat 48 pesantren. Hebatnya, 40 pimpinan pesantren menyatakan setuju Ahmadi maju sebagai kepala daerah.

Lalu siapa sosok yang mendampingi dirinya sebagai calon wakil bupati? Ahmadi menyampaikan, sosok itu harus ulama. “Siapa orangnya, saya serahkan kepada para ulama Bener Meriah mencarinya. Lalu muncul beberapa nama. Saya setuju semua. Sampai akhirnya pilihan jatuh kepada Tgk Syarkawi, salah seorang ulama yang sangat dihormati di Bener Meriah,” cerita Ahmadi.

Source

No Response

Leave a reply "Ahmadi, ‘Elang’ dari Samarkilang"