Dewan: Stop Program Pengembangan Sawit

No comment 8 views

* Respons atas Penolakan Petani Bandarbaru

MEUREUDU – Anggota DPRK Pidie Jaya, Bustami HS merespons sikap petani di Kecamatan Bandarbaru yang menolak program pengembangan tanaman kelapa sawit di Gampong Abah Lueng, di lahan seluas 200 hektare yang disiapkan Dishutbun Pijay tahun 2017 ini.

Ia pun mendesak agar Pemkab mendengar aspirasi petani, dan mengalihkan program pengembangan sawit senilai Rp 5 miliar ini ke pengembangan tanaman Kakao atau komoditi lain yang disarankan petani, karena sudah terbukti memberi hasil panen yang memuaskan.

Bustami juga mendukung sejumlah alasan petani terkait penolakan pengembangan sawit, yaitu fakta bahwa satanam sawit rawan disantap gajah, rawan kekeringan karena sifat tanaman sawit yang rakus air, serta alasan lainnya dari pihak Walhi yang juga menyarankan agar Pemkab tidak meneruskan program pengembangan sawit di Gampong Abah Lueng, Bandarbaru, karena melanggar prinsip tata ruang yang sudah disusun.

“Karena itu saya mendesak Pemkab Pidie khususnya Dishutbun agar mengalihkan program pengembangan lahan sawit di Abah Lueng, ke pengembangan tanaman selain sawit,” tegasnya kepada Serambi, Kamis (6/4).

Ia menambahkan ada tiga faktor suksesnya pengembangan tanaman sawit, yang malah tidak dimiliki tidak dimiliki kawasan pegunungan Abah Lueng. Tiga faktor yang harusnya menjadi pertimbangan itu adalah, lahan basah (gambut), memiliki curah hujan 2.500 mm, dan ketinggian atau topografi yang sesuai.

Menurut anggota dewan yang berasal dari Dapil Bandarbaru ini, karakter kawasan pegunungan yang hendak dijadikan lokasi program sawit ini tidak memiliki tiga unsur tersebut. Sehingga jika pengembangan sawit tetap dipaksakan, potensi kerugian akan sangat besar, dan petani pun dihadapkan pada kegagalan program yang malah disebabkan oleh pemerintahnya sendiri.

“Saya lebih paham bahwa masyaerakat di Bandarbaru dan sekitarnya selama ini hidup makmur dari sektor perkebunan Kakao yang telah berhasil. Sehingga Pijay mulai dikenal dengan produk cokelatnya. Karena itu, Dishutbun tidak perlu mencoba tanaman lain seperti sawit untuk dikembangkan di daerah ini,” sarannya.

Anggota DPRK Pijay, Bustami HS mengingatkan pejabat Dishutbun Pijay, bahwa program Pemkab yang sudah berjalan selama ini dan perlu didorong lagi, adalah program tanam padi 5 kali dalam dua tahun yang dicetuskan Bupati Aiyub Abbas dan Wabup H Said Mulyadi. “Program ini sangat positif dan perlu didorong agar berjalan sesuai rencana,” ungkapnya.

Kepada Kadishutbun Pijay, ia menegaskan, bahwa kunci sukses utama pertanian sawah adalah ketersediaan air secara stabil yang sangat dibutuhkan. Karena itu pengalihan fungsi hutan dan lahan (ilegal loging, penambangan di kawasan hutan dan pengembangan tanaman sawit) akan sangat berdampak ekosistem sungai sebagai pemasok air secara alami.

Source

No Response

Leave a reply "Dewan: Stop Program Pengembangan Sawit"