Nelayan Aceh Barat Mogok

No comment 12 views

* Protes Polair Terkait Penahanan Enam Nelayan

MEULABOH – Ratusan nelayan tradisional di Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat dua hari terakhir mogok melaut sebagai bentuk protes terhadap tindakan Polisi Pengairan (Polair) Polda Aceh menahan enan nelayan Aceh Barat. Amatan Serambi, Sabtu (22/4) ratusan nelayan tradisional berkumpul di bangunan masjid di Desa Padang Seurahet, Kecamatan Johan Pahlawan.

Para nelayan meneriakan yel-yel dengan menaiki boat serta menyampaikan aspirasi mereka sebagai bentuk kecewaan mereka kepada Polair. Bahkan mereka menyatakan akan melakukan aksi lebih besar yang direncanakan pada Selasa (25/4). “Aksi yang kami lakukan ini sebagai bentuk kekecewaan kepada Polair Polda karena adanya diskriminatif dalam penegakan hukum,” kata Indra Jeumpa, koordinator aksi nelayan kepada wartawan.

Menurutnya alat tangkap yang digunakan keenam nelayan yang ditahan bukan alat tangkap yang dilarang. Selain itu mereka juga menilai tindakan polisi dinilai diskriminatif karena yang selalu ditangkap oleh Polisi Air adalah nelayan dari Kecamatan Johan Pahlawan. “Kami dapat informasi dalam dua hari silam juga ditangkap di wilayah Samatiga. Tapi kenapa dilepas. Ini diskriminatif,” kata Indra.

Ia menilai penahanan enam nelayan Aceh Barat juga ditemukan banyak kejanggalan. Karena awalnya Polda hanya menelepon kepada nelayan untuk datang ke Polair Polda Aceh di Banda Aceh. Namun sesampai di sana langsung ditahan tanpa surat pemanggilan. “Ada beberapa kejanggalan lainnya. Kami akan mengelar aksi lebih besar lagi. Ini bentuk kebersamaan nelayan dan kami tidak melaut sementara waktu ini. Kami melihat penangkapan oleh Polair ini telah meresahkan nelayan,” ungkap Indra.

Panglima Laot Lhok Padang Seurahet, Anwar dalam kesempatan aksi itu juga menyesalkan sikap Polair Polda Aceh dan Polair Polres Aceh Barat yang mengabaikan hukum adat laot dalam menangani kasus itu. “Kami sudah menyampaikan permohonan agar persoalan ini diselesaikan secara hukum adat laot. Kami juga menyesalkan sikap penangkapan yang dinilai banyak kejanggalan,” kata Panglima Laot.

Seperti diberitakan, Direktorat Polda Aceh menahan enam nelayan Aceh Barat dalam kasus penggunaan alat tangkap ikan jenis pukat harimau (trawl). Keenam nelayan ditahan polisi pada 28 Maret 2017 setelah sebelumnya ditangkap Satpolair Polres Aceh Barat di perairan laut Meulaboh. Keenam nelayan tradisional tersebut masih mendekam di sel Polair Polda Aceh dan dijerat Undang-undang Nomor Tentang Perikanan.

Penangkapan dilakulan Polair Polres Aceh Barat pada 23 Maret 2017 di perairan laut Meulaboh, Aceh Barat dan kasus ini akhirnya ditangani Ditpolair Polda Aceh. Pada 28 Maret lalu keenam nelayan menjalani pemeriksaan di Polair Polda Aceh serta langsung ditetapkan statusnya sebagai tersangka serta dijebloskan ke sel Polair Polda Aceh di Banda Aceh.

Enam nelayan tersebut tercacat semuanya penduduk Aceh Barat tersebut yaitu Surya Adrianto (42) warga Pasi Masjid, Baktiar (37) warga Paya Peunaga, M Mizar (37) warga Ujong Baroh, Aliman (52) warga Padang Seurahet, Yuli Saputra (32) warga Padang Seurahet, R Din (46) warga Peunaga Baro.

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Barat dan Nagan Raya Hamdami, Senin (24/4) menyatakan laporan sementara diperoleh bahwa hari ini Selasa (25/4) berkas nelayan Aceh Barat yang ditahan akan dilimpahkan Ditpolair Polda Aceh ke Kejari Aceh Barat. “Informasi lebih lanjut masih kita tunggu. Kita akan memberi pendampingan hukum. Karena ada sejumlah kejanggalan dalam proses hukum dalam kasus ini. Seperti halnya diperiksa tanpa ada surat pemanggilan oleh polisi,” kata Hamdani.(riz)

Source

Incoming search terms:

No Response

Leave a reply "Nelayan Aceh Barat Mogok"